Asuransi Syariah

Sistem Asuransi Syariah Memiliki Keunggulan

Posted on Juni 19, 2009. Filed under: Artikel, Asuransi Syariah | Tag:, |

Sistem Asurasi Syariah memiliki perbedaan dan keunggulan lebih bila dibanding sistem asuransi konvensional. Perbedaan dan keunggulannya terdapat pada prosedur penyimpanan dana, operasionalisasi dana asuransi, dan akadnya.

Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Muhammad Zubair mengatakan, terdapat perbedaan antara asuransi syariah dan konvensional, yaitu penempatan dana berdasarkan bagi hasil bukan bunga, premi tidak boleh digunakan perusahaan asuransi untuk hal-hal yang melanggar syariat, uang yang diberikan pada klien nasabah dari perusahaan tidak boleh digunakan bila premi yang dibayar klien jatuh tempo, dan bila perusahaan untung, maka keuntungan dipotong dua setengah persen untuk zakat.

“Asuransi syariah unggul dari segi akad. Dalam akad harus jelas karena menentukan sah tidaknya secara syariat. Klien nasabah bisa mengambil akad mudharabah atau tabarru. Asasnya bukan jual beli seperti di asuransi konvensional, tapi tolong menolong,” kata Zubair pada Talk Show Islamic Insurance yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Asuransi Syariah (BEMJ AS) Fakultas Syariah dan Hukum, di Teater lt.2, Selasa (1/5).Meski memiliki keunggulan, kata Direktur Utama MAA Life Assurance Syariah Hardy Harahap masih menghadapi sejumlah permasalahan terutama minimnya regulasi yang mengatur sistem asuransi itu. Kini, baru terdapat satu Undang-Undang (UU) yang mengatur secara khusus menyangkut sistem asuransi syariah, yaitu UU Nomor 2 tahun 1992. Kendati demikian, lanjut Hardy, UU itu belum mampu mengakomodasi semua kebutuhan terkait regulasi asuransi syariah.

Hardy mencontohkan, bila terjadi persengketaan antara perusahaan dan klaim nasabah, maka menurut UU itu harus diselesaikan di peradilan syariah. Sementara itu, pemerintah belum menyediakan kelembagaan peradilan syariahnya, peradilan seperti itu baru ada di Aceh. Menghadapi persoalan itu, Hardy meminta pengelola asuransi membuat draf UU yang nanti diajukan ke pemerintah. Upaya itu agar sistem asuransi syariah tidak cacat hukum dan terjaga kemurniannya dari unsur ribawi.

“Asuransi harus dipergunakan demi kemaslahatan umat,” kata Hardy. Perundang-undangannya harus segera dilengkapi, agar mempermudah proses birokrasi dan meningkatnya minat kaum Muslimin untuk segera beralih ke asuransi syariah.*

(Oleh: Endah Salsabila -UIN Online)

dikutip: asuransisyariah(dot)net

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional

Posted on Juni 19, 2009. Filed under: Artikel, Asuransi Syariah | Tag:, |

Ada beberapa perbedaan antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional, perbedaan itu adalah :

1.Berdasarkan akad yang digunakan

Pada asuransi konvensional akad berdasarkan jual – beli, sedangkan pada asuransi syariah akad berdasarkan tolong menolong.

2. Operasional

  • Pada asuransi konvensional dana yang terkumpul dari peserta menjadi milik perusahaan, sedangkan pada asuransi syariah dana yang terkumpul dari nasabah merupakan milik nasabah. Perusahaan asuransi hanya sebagai pengelola (mudharib), bukan pemilik dana.
  • Pada asuransi konvensional investasi dana mamakai bunga ( riba ) sebagai landasan perhitungan investasinya, sedangkan pada asuransi syariah investasi dana berdasarkan bagi hasil ( mudharabah ).
  • Dalam mekanismenya, asuransi syariah tidak mengenal dana hangus seperti yang terdapat pada asuransi konvensional, jika pada masa kontrak peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum reversing period maka dana yang telah dimasukkan dapat diambil kembali, kecuali sebagian kecil yang telah diniatkan untuk tabarru
  • Pembayaran klaim pada asuransi syariah diambil dari dana tabarru ( dana kebajikan ) seluruh peserta yang sejak awl telah diiklaskan bahwa ada penyisihan dana yang akan dipakai sebagai dana tolong menolong diantara peserta bila terjadi musibah. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambil dari rekening dana perusahaan.
  • Pembagian keuntungan pada asuransi syariah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan, sedangkan pada asuransi konvensional seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan.

3. Sistem Pengawasan

Pada asuransi syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah, sehingga operasional asuransi syariah tidak menyimpang dari syariah, sedangkan pada asuransi konvensional tidak ada Dewan Pengawas Syariah.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Prinsip – Prinsip Asuransi Syariah

Posted on Juni 18, 2009. Filed under: Artikel, Asuransi Syariah | Tag:, |

Haramnya praktik asuransi dalam Islam sudah banyak digaungkan oleh para ulama-ulama di Indonesia maupun mancanegara. Hal ini dikarenakan adanya :

  1. Gharar : terlihat dari unsur ketidakpastian tentang sumber dana yang digunakan untuk menutupi klaim dan hak pemegang polis
  2. Maysir yaitu  unsur judi yang digambarkan dengan kemungkinan adanya pihak yang dirugikan di atas keuntungan pihak lain
  3. Riba karena menggunakan sistem bunga.

Asuransi Syariah memiliki prinsip yang berbeda dengan lembaga konvensional. Prinsip prinsip tersebut antara lain :

1. Saling Membantu dan Bekerjasama

“….Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS.Al Maidah:2)

“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong sesamanya” (HR.Abu Daud)

“Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud)

2. Saling melindungi dari berbagai macam kesusahan seperti membiarkan uang mengganggur dan tidak berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat umum.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu….”(QS.4:29)

3. Saling bertanggung jawab

4. Menghindari unsur gharar, maysir dan riba

Islam menekankan aspek keadilan, suka sama suka dan kebersamaan menghadapi menghadapi resiko dalam setiap usaha dan investasi yang dirintis. Aspek inilah yang menjadi tawaran konsepuntuk menggantikan gharar, maysir dan riba yang selama ini terjadi di lembaga konvensional.

Sumber: Buku saku Lembaga Bisnis Syariah; Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Tata Cara dan Operasional Asuransi Syariah

Posted on Juni 18, 2009. Filed under: Artikel, Asuransi Syariah | Tag:, |

1. Akad

Akad antara perusahaan dengan peserta menggunakan akad mudharabah dengan semangat saling menanggung ( takaful ), dan bukan berdasarkan akad pertukaran ( tadabbuli ).

Unsur dalam akad al – mudharabah ialah :

  • Perusahaan menginvestasikan dan mengusahakan ke dalam bentuk musyarakah, murabahah dan wadi’ah
  • Menanggung resiko usaha secara bersama – sama dengan prinsip bagi hasil yang telah disepakati
  • Pembagian hasil atas keuntungan dari hasil investasi dilakukan setelah penyelesaian klaim manfaat takaful dari peserta yang mengalami musibah.

2. Pengelolaan dan Investasinya tidak bertentangan dengan Syariat Islam :

  • Gharar ( Ketidakjelasan transaksi )
  • Maysir ( Judi / Untung – untungan )
  • Riba ( Bunga )

sumber : Buku saku lembaga bisnis syariah ; Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Posted on Juni 15, 2009. Filed under: Asuransi Syariah | Tag: |

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional
Ada tujuh perbedaan mendasar antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional.

Perbedaan tersebut adalah:

1. Asuransi syari’ah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang betugas mengawasi produk yang dipasarkan dan pengelolaan investasi dananya. Dewan Pengawas Syariah ini tidak ditemukan dalam asuransi konvensional.
2. Akad yang dilaksanakan pada asuransi syari’ah berdasarkan tolong menolong. Sedangkan asuransi konvensional berdasarkan jual beli
3. Investasi dana pada asuransi syari’ah berdasarkan bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional memakai bunga (riba) sebagai landasan perhitungan investasinya
4. Kepemilikan dana pada asuransi syari’ah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Pada asuransi konvensional, dana yang terkumpul dari nasabah (premi) menjadi milik perusahaan. Sehingga, perusahaan bebas menentukan alokasi investasinya.
5. Dalam mekanismenya, asuransi syari’ah tidak mengenal dana hangus seperti yang terdapat pada asuransi konvensional. Jika pada masa kontrak peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa reversing period, maka dana yang dimasukan dapat diambil kembali, kecuali sebagian dana kecil yang telah diniatkan untuk tabarru’.
6. Pembayaran klaim pada asuransi syari’ah diambil dari dana tabarru’ (dana kebajikan) seluruh peserta yang sejak awal telah diikhlaskan bahwa ada penyisihan dana yang akan dipakai sebagai dana tolong menolong di antara peserta bila terjadi musibah. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan.
7. Pembagian keuntungan pada asuransi syari’ah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan. Sedangkan pada asuransi konvensional seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

  • Assalamualaikum Selamat Datang Di Blog Asuransi dan Investasi Syariah
  • Mei 2018
    S S R K J S M
    « Jun    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Kategori

  • IP

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...